Kamis, 21 Juni 2012

PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA III

PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA

ANALISA TENTANG PURNAWARMAN RAJA MENDUNIA

Diawal artikel tentang raja Purnawaran, bukan penulis menghindar untuk menjelaskan maksud dari judul artikel yaitu Purnawaman raja mendunia. Soalnya tidak tepatlah kalau penulis menjelaskan diawal artikel hehehe.

Baiklah. Penulis yakin bahwa Purnawarman adalah raja diraja atau maharaja yang mempunyai kekuasaan mendunia, bahkan mungkin setara atau menyamai luas wilayah nusantara sekarang. Kemungkinan pertama. Tidak terdapatnya data sejarah mengenai kerajaan-kerajaan lain dibagian Indonesia sebelah timur, berita mengenai munculnya kerajaan-kerajaan disebelah Timur Indonesia baru muncul ketika masa Keemasan Kerajaan Sriwijaya, lebih tepatnya masa Wangsa Sailendra mulai sekitar abad 7, berita pelancong negeri jazirah Arab. Artinya bisa jadi kerajaan-kerajaan itu belum terbentuk. Kalau tidak ada kerajaan, apa yang mau ditaklukin? Dan sah-sah saja kalau dikatakan Tarumanagara mengusai wilayah tersebut. Bahkan tatar Jawa yang bisa dikatakan lebih modern, tidak terdapat sama sekali berita mengenai telah tumbuh dan berkembangnya suatu kerajaan pada masa itu. Tatar Jawa juga sah kalau diklaim masuk wilayah kekuasaannya Kerajaan Tarumanagara. Begitu pun diwilayah Indonesia bagian barat, tidak ada informasi pada saat itu salah satu kerajaan yang memberikan informasi seperti Tarumanagara. Sah juga kalau dianggap mereka berada dalam kekuasaan Tarumanagara.

Tentang Kerajaan Kutai Masa Mulawarman

Penulis yakin pembaca akan menanyakan tentang hal ini, Kerajaan Kutai kisaran abad ke-4. Bener kan? Ya, baiklah dengan segala kerendahan hati penulis memberanikan diri untuk mengajukan opini berupa hipotesa, dugaan bahwa Purnawarman dan Mulawarman adalah menunjuk raja yang sama bukan dua orang tapi satu orang. Tentunya ada alasan donkk tidak sembarang hipotesa.

Mari perhatikan! Prasasti yang ditemukan di Kutai yang diperkirakan dibuat pada abad ke-4. Prasasti itu bukan dibuat oleh raja di daerah Kutai, tapi dibuat oleh para Brahmana sebagai ucapan terima kasih atas kemurahan hati raja Mulawarman atas hadiah berupa 1000 ekor sapi dan lainya, ada juga yang mengatakan lembu. Tetapi dalam prasati itu tidak dijelaskan nama kerajaan. CATAT! Nama kerajaan Kutai itu diberikan setelah diketemukan Naskah Nagarakertagama yang menyebutkan adanya kerajaan dibawah Kerajaan Majapahit yang bernama Kutai Kertanagara. Merujuk dari informasi Nagarakertagama, entah siapa yang memulai, maka prasasti yang diketemukan itu dinamai prasasti kutai dan Nama Kerajaannya pada kisaran abad ke-4 itu diduga adalah Kerajaan Kutai.

Kalau dilihat berdasarkan bukti sejarah dan peninggalan artefak, diakui atau tidak Kerajaan Kutai itu tidak pernah ada. Silakan pembaca yang budiman ajukan ke penulis kalau bukti itu memang ada.

Perhatikan nama raja-raja yang disebut dalam prasasti tersebut. Pertama, Kudungga yang menerangkan mempunyai seorang putra. Kedua Aswawarman adalah putra dari Kudungga yang mempunyai 3 orang putra, hanya putra yang cemerlang yang disebut, dan Aswawarman ini adalah pendiri dinasti, entah apa nama dinastinya, tidak disebutkan. Ketiga. Mulawarman, putra yang paling cemerlang diantara ketiga putra Aswawarman tersebut diatas. Tentang penyebutan nama Kudungga dan Aswawarman hanyalah penyebutan silsilah keluarga dari Raja Mulawarman sebenarnya oleh para Brahmana dalam prasasti tersebut. Jadi tidak menyebutkan raja-raja yang berkuasa di daerah tempat prasasti ditemukan pada masa itu.

Lihat kembali jumlah hewan ternak sapi yang dihadiahkan kepada para Brahmana, 1000 ekor, bukan kah itu juga jumlah yang diberikan raja Purnawarman terhadap para Brahmana di Kerajaan Tarumanagara, cek prasati Tugu.

Kalau dilihat dari huruf dan bahasa yang digunakan adalah sama yaitu huruf palawa dan bahasanya sansekerta. Mungkin apa perbedaan sedikit, tergantung siapa yang menulis dan tahun penulisan. Tapi pada dasarnya sama.

Arti Nama Purnawarman dan Mulawarman

Dalam bahasa sansekerta yang penulis ketemukan dari beberapa sumber. Purnawarman, asal kata dari Purna dan Warman. Purna artinya selesai atau terakhir, warman artinya cahaya atau raja. Jadi purnawarman adalah cahaya terakhir atau raja terakhir.

Mulawarman berasal dari kata Mula dan Warman, mula artinya awal, permulaan, Warman sama seperti diatas mempunyai arti cahaya atau raja. Dengan demikian Mulawarman mempunyai arti raja permulaan atau cahaya permulaan.

Kata warman mirip dengan warma. Kelihatanya kalau warman diakhir kata sedangkan warma jika kata itu disimpan ditengah atau diawal seperti nama Raja Mauli yaitu Mauliwarmadewa artinya Dewa Raja Mauli, raja diraja atau maha raja mungkin maksudnya. Penulis berpendapat warma = warman, lebih tepatnya diartikan raja dalam konteks ini.

Ada pepatah, timur jauh dengan barat jauh bukankah menunjuk tempat yang sama? Begitu juga penulis berpendapat, raja akhir dan raja awal bukankah menunjuk nama satu orang? Kalau Purnawaman mempunyai arti raja terakhir, penulis pastikan bahwa itu bukanlah nama sebenarnya, tidak mungkin seorang raja mengandung pengertian raja terakhir, begitu juga dengan raja Mulawarman, kalau artinya raja permulaan, kenapa nama itu tidak diberikan kepada Kudungga.

Dugaan penulis bahwa kedua nama itu hanya diberikan untuk istilah, gelaran penyebutan, Mulawarman sebagai raja permulaan yang mengindikasikan kerjaan itu telah terbentuk sempurna sebagai kerajaan dan besar dilihat dari luas wilayah sedangkan penyebutan Purnawarman mengindikasikan akhir dari sebuah kerajaan besar.

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa Kerajaan Tarumanagara itu berakhir? Penulis jawab sendiri tentunya hehehe, Tarumanagara berakhir karena bencana alam super dasyat, letusan gunung Krakatau 535 Masehi, Ehhh sebentar, bukan kah lambang laba-laba juga bercampur dengan dimensi matahari kembar atau perpaduan surya-candara (bulan dan matahari), itu bisa jadi merupakan simbolisasi terhadap peristiwa alam yang terjadi setahun sebelum pembuatan prasasti di Ciaruteun tersebut? Silakan baca artikel penulis sebelumnya yang berjudul Nagarakertagama, Atlantis dan Eden tentang hilangnya catatan sejarah di Nusantara awal abad masehi, ditandai dengan “a super collosal eruption Krakatau”.

Bencana alam gunung krakatau ini juga yang menjelaskan teori imigrasi, sehingga menyebabkan eksodus masyarakat Tarumanagara ke arah menjauh sumber bencana dan arah yang mungkin adalah ke arah timur. Para Brahmana yang membuat prasati yang diketemukan di daerah hulu sungai Mahakam yang terkenal dengan sebutan prasasti Kutai adalah para pelaku yang melakukan eksodus akibat bencana tersebut lewat laut. Sedangkan yang eksodus lewat darat akhirnya mereka membentuk koloni baru dengan munculnya kerajaan Kalingga di Jawa Tengah. Bisa jadi terbentuknya kerajaan Kutai Kertanagara adalah bentukan atas prakarsa para warga yang eksodus ke tempat itu.

Sekali lagi penulis katakan bahwa prasati yang menerangkan tentang Kerajaan Tarumanagara dengan Rajanya Purnawaraman itu menunjukan angka pembuatan pada tahun 536 Masehi, tepat satu tahun setelah bencana itu terjadi.

Tentang pembuatan prasati, kalau asumsinya bahwa prasati itu menunjuk kepada Raja Purnawarman Kerajaan Tarumanagara, apakah yang dibuat di Kutai dibuat di wilayah kerajaan Tarumanagara. Bisa jadi itulah prasasti aslinya Kerajaan Tarumanagara, berupa Yupa. Soalnya terindikasi bentuk batu prasasti yang berbeda dengan prasati yang diketemukan di Jawa Barat, dibuat pada batu dengan bulatan hampir masih utuh, terkesan darurat. Coba bandingkan dengan prasati jaman kerajaan Pakuan Pajajaran, parasati itu berupa Yupa juga.

Ehhhh, ada yang bilang bahwa Raja Kutai, Aswawarman yang mempunyai 3 orang putra salah satunya Mulawarman adalah pendiri Wangsa Kerta, apa hubungannya ya dengan nama kitab Wangsakerta yang menerangkan silsilah kerajaan Sunda? Kenapa Kitab Wangsakerta tidak fokus dan diperuntukan untuk menerangkan silsilah kerajaan Kutai? Kalau memang nama itu diambil dari dinasti raja-raja Kutai. Maaf pembaca, penulis sendiri belum bisa jawab, mudah-mudahan ada pembaca yang mau berbagi....aminnn.

Kelihatanya. Kita baru dapat melihat jelas terhadap sejarah Nusantara masa lampau kalau seandainya 26.000 manuskrip yang ada di Leiden, negeri Walanda atau Belanda itu bisa kita angkut ke tanah air tercinta, arsip kita aja hanya 12000-an. Mudah-mudahan ada pemimpin yang berani memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda kalau manuskrip itu tidak dikembalikan ke tangan kita, si pemilik yang syah...Salute! kalau ada pemimpin bangsa yang berani berbuat seperti itu. Kalau semisal pemutusan hubungan diplomatik itu menyebabkan penulis hanya bisa makan 1 kali sehari selama 1 bulan, yappp penulis akan menerima dengan rela hati.

AKHIR DAN KESIMPULAN

Ya, kita kembali lagi membahas Purnawarman sebagai raja mendunia. Dengan uraian simbol lebah “bhramara”, Teratai dan laba-laba bukan kah cukup untuk mengatakan bahwa Raja Purnawarman adalah sebagai raja yang mendunia?

Lihat juga pembangungan sungai dengan sekala besar, 11 kilometer, prasasti Tugu, dan sungai lainnya dan itu bukan pekerjaan mudah, perlu kerjasama semua pihak untuk melakukan pekerjaan tersebut, dan diperuntukan untuk meningkatkan produksi pangan serta sistem pengairan lahan, apakah serasi dengan simbolisasi Lebah?

Prasasti Jambu, menyatakan bahwa raja Purnawarman adalah Raja yang tidak pernah terkalahkan oleh siapapun. Dikatakan pula bahwa baju besi Raja Purnawarman tidak dapat ditembus oleh panah, itu setidaknya menjadi indikasi bahwa sudah terdapatnya tehnologi perang yang cukup canggih dilihat dari masanya. Wajar kalau kerajaannya ditakuti dan disegani, dan wajar juga kalau Purnawarman mengusai seluruh wilayah Nusantara, tidak pernah terkalahkan, serasi dengan simbolisasi laba-laba dan lebah.

Raja di Nusantara mana yang pernah menyumbang atau memberi hadiah 1000 ekor sapi kepada para Brahmana? 1000 ekor x 5 juta, misal harga sapi 5 juta berati total yang disumbangkan adalah 5 milyar, nilai yang sungguh fantastis, itu cuma hadiah loh, artinya "sapiii-nya" Raja Mulawarman bisa mencapai jumlah puluh ribu dong kalu begtu? Pemberian hadiah itu semata-mata memberi contoh bersedekah dan kepercayaan terhadap apa yang dia anut, dan pemberian hadiah ini pula menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya, serasi dengan simbolisasi teratai dan lebah.

Sebenarnya ada lagi satu simbol yaitu berupa telapak kaki “Gajah Airawata”, simbol Gajah yang menjadi kendaraannya Dewa Indra. Simbol ini melambangkan kebesaran dan kejayaan dari Raja Purnawarman, sebagai titisan atau perumpamaan dewa Indra, laksana dewa perang dan penguasa guntur atau halilintar. Kalau dewa yang perang, yang punya mainannya halilitar, siapa yang mau melawan? hehehe.

Tentang hipotesa bahwa Raja Purnawarman tiada lain adalah orang yang sama seperti diberitakan oleh prasasti Kutai yaitu Mulawarman, Kalau itu benar berarti menambah data sejarah terhadap silsilah kerajaan Sunda, Dimulai Kudungga, Aswawarman, Anak ke-1, Anak ke-2 kemudian Purnawarman sebagai raja terakhir, atau dari Aswawarman langsung ke Purnawarman bisa jadi demikian. Tapi resikonya akan kehilangan silsilah raja-raja di Kerajaan Kutai sendiri.

Sumber luar negeri tentang masa Kerajaan Tarumanagara ini diberitakan oleh Fa-Hien (414 Masehi), berita dinasti Sui (528 dan 535 Masehi) dan dinasti Tang (666 dan 669 Masehi), hanya berita ini harus dikaji ulang, apakah meraka tidak salah sasaran atau maen pukul rata. 

To-lo-mo diduga secara fonetis sebagai Taruma atau menunjuk kerajaan Tarumanagara  Ini juga menjadi indikasi bahwa kerajaan pada saat itu diakui di Nusantara adalah kerajaan Tarumanagara. Lihat tahun pada dinasti Sui 528 dan 535 Masehi. Terhenti di 535 Masehi dan itu kejadian bencana alam seperti disampaikan diatas. Masa dinasti Tang, 666 dan 669 Masehi bisa jadi ini salah penyebutan, yang datang mungkin saja dari kerajaan Sriwijya, tapi berita China masih mengangap sama, dari To-lo-mo.

Sekian dan terima kasih

Salam Damai Negeriku, Salam Sejahtera Nusantaraku
 
Wassalam
Penulis

Referensi

  1. Richadiana Kartakusuma (1991), Anekaragam Bahasa Prasasti di Jawa Barat Pada Abad Ke-5 Masehi sampai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Tentang Munculnya Bahasa Sunda. Tesis (yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Arkeologi). Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia.
  2. Dinas Purbakala R.I (1964) Laporan Tahunan 1954 Dinas Purbakala Republik Indonesia. Djakarta: Dinas Purbakala
  3. J.L.Moens (1940)"was Purnawarman van Taruma een Sanjaya?" TBG.81
  4. J. noorduyn and H.Th.Verstappen (1972), "Purnawarman's River-works near Tugu" BKI 128:298-307
  5. R.M.Ng.Poerbatharaka (l952), Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan Pembangunan
  6. Soetjipto Wirjosuparto (1963), The Second Wisnu Image of Cibuaya, West Jawa, MISI. I/2: 170-87
  7. Teguh Asmar (1971), "Preliminary Report on Recent Excavation near the Kenon Kopi Inscription (Kampung Muara)" Manusia Indonesia V(4-6), l971:416-424;
  8. Teguh Asmar (l971) "The Megalithic Tradition" dalam Haryati Soebadio et.al.(editor) Dynamic of Indonesian History, Amsterdam. 1978:29-40
  9. W.P.Groeneveldt, Catalogus der Archaeologische Verzameling van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia l887
  10. N.J.Krom "inventaris der Hindoe-Oudheden" ROD 1914-1915.
  11. Hasan Djafar "Pemukiman-Pemukiman Kuna di Daerah akarta dn Sekitarnya" makalah pada Dskusi Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta 11-12 Februari 1988. IAAI Komda Jawa Barat.
  12. Van der Hoop Catalogus der Prehistorische Verzameling. 1941.
  13. R.P.Soejono "Indonesia (REgional REport)" Asian Perspectives VI, 1962: 23-24
  14.  I Made Sutayasa (l970) "Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara (kompleks Bun), makalah pada Seminar Sjarah Nasional II
  15. Jurusan Arrkeologi FSUI (l985/1986), Peninggalan Purbakala di Batujaya (naskah Laporan untuk Proyek Penelitian Purbakala, Jakarta)
  16.   www.parisada.org
  17.   sains.kompas.com
  18.  keajaibanlabalaba.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar